Cheolsoo AU: Canon compliant, Drabble, Cheolsoo as friends, No romantic relationship, Light angst, Character study, Hurt/comfort, Jealousy, Low self-esteem, Social media tends to forget that idols are humans too, My personal rant, ISTG I’ve had enough
Paris. Kota para pencinta. Kota dimana sejoli saling berkasih-kasihan. Kota yang indah…selama kamu tidak bangun terlalu pagi dan menyaksikan banyak tahi burung dara berjatuhan bak bom tanpa mesiu. Sesuatu yang, dengan berat hati, diakui para warga lokal dan turis sebagai masalah berkelanjutan.
Sialnya, itulah tepatnya yang Joshua lakukan. Bangun pagi adalah forte-nya, lulus dengan predikat cum laude dan dengan segera dirinya mengambil PhD dalam jogging pagi. Sesuatu yang bermula hanya lari-lari kecil mengelilingi ruang latihan berakhir menyambangi 10 KM dalam satu sesi. Biasanya dia akan berlari bersama member, entah Mingyu, entah Seungkwan. Hari ini secara random dia menemukan dirinya bersama Seungcheol.
Seungcheol jarang membagi hobi bersama Joshua—itu biasanya tugas Mingyu atau teman-temannya yang lain. Bahkan Jeonghan pernah satu-dua kali menemaninya mengitari kota sampai ke pantai terdekat. Tidak dengan Choi Seungcheol. Kesukaan mereka cukup berbeda hingga Joshua jarang bersamanya di luar jadwal kerjaan.
(Terlebih, Jeonghan lebih mudah diajak kemana-mana daripada dirinya, mengingat Jeonghan sering marah padanya karena Joshua menolak ajakan jalannya.)
Seungcheol yang seperti itu, pagi ini malah berlari persis di samping Joshua, pura-pura mengabaikan tatapan curiga lelaki itu. “Liat depan, Shua,” ucapnya, pada akhirnya tidak mampu memasang topeng lagi. “Nanti lo kejatohan tai burung baru tau rasa.”
Joshua mengernyitkan alis, “Lo tuh yang aneh.”
“Aneh gimana? Nemenin temen gue jogging, aneh gitu?”
Nggak mau kalah banget, batin Joshua. “Aneh lah. Sejak kapan lo suka jogging pagi?” dia berkata sambil menstabilkan napasnya. Mereka berlari dengan pace yang teratur. Udara pagi di kota Paris tidak sesegar seharusnya karena bom tahi burung menghiasi sudut-sudut kota. Eww. “Ah, parah banget ini…” Joshua mendadak berhenti. Hampir saja sebersit tahi jatuh mengenai bahunya, andaikan dia tidak sesigap itu menghentikan langkah.
“Kepagian kitanya. Kata resepsionis hotel, agak siangan dikit udah dibersihin kok,” jelas Seungcheol.”Jam segini orang-orang belom pada bangun.”
Joshua tidak menanggapi. Dia sibuk mencari rute yang agak bersih dan, ketika menemukan, mengubah arah larinya ke trotoar lebar persis menuju taman. Seungcheol mendecakkan lidah, tapi dia pun mengikuti arah lari Joshua. Gagal rupanya usaha Joshua memisahkan mereka. Mereka tidak berkata apapun sampai melintasi air mancur tengah taman.
“Jujur deh, lo ngapain sih jogging sama gue?”
“Maksudnya?”
“Lo bukannya nggak suka lari?”
Seungcheol manyun, “Suka kok.”
“Kalo lo suka jogging,” Joshua menghembuskan napas. “Berarti yang lo nggak suka itu gue?”
Mendengar itu, Seungcheol kaget. “Kok lo ngomong gitu?” dia berhenti. Joshua otomatis ikut berhenti untuk menoleh, menatap balik padanya. “Sejak kapan lo mikir gue nggak suka lo?”
“Pikir aja, Cheol. Kapan kita pernah lakuin sesuatu berdua doang?” dengan tenang, Joshua menjawab. “Pergi makan berdua aja kita enggak. Selca bareng jarang. Bahkan acara masak lo, gue nggak diundang.” Kemudian, dia tersenyum. “Gue paham kok kalo lo akhir-akhir ini tiap manggung nempel gue mulu karena Jeonghannie yang biasa lo tempelin lagi nggak ada. Di luar itu, kita sama sekali nggak ada hobi yang sama. Makanya gue nanya, lo ngapain jogging bareng gue kayak sekarang—”
Tiba-tiba saja tangan Seungcheol menutup mulut Joshua.
“Jangan berani lo terusin,” geramnya. Dia marah, batin Joshua. Matanya menatap Joshua dengan tajam. “Gue nggak pernah nggak suka sama lo, Shua. Gue suka kalian semua. Gue nggak beda-bedain kalian ya. Lo sendiri yang selalu nolak kalo gue ato Hannie ngajak jalan. Lo sendiri yang nggak baca grup, nggak baca chat gue, dianggurin sebulan. Lo sendiri yang kalo ada waktu nganggur dikit, tetiba ilang jalan sama temen-temen lo yang laen.”
Dia diam sejenak sambil menarik napas.
“Jejangan lo yang nggak suka sama gue?”
Pedih. Dituduh begitu sama lelaki yang memandangmu dan member lainnya seolah mereka lah satu-satunya yang dia miliki di dunia. Satu-satunya teman yang dia butuhkan seumur hidup. Lelaki yang, meski dia sendiri masih bertumbuh, harus menanggung beban ‘membesarkan’ anak-anak seusianya. Beban yang lebih sering dia bagi bersama Jeonghan karena dia paham perjuangan Joshua sendirian di negara asing, jauh dari rumah. Dia tidak mau menambah beban Joshua, ingin Joshua merasa bebas melakukan apapun yang dia mau.
Satu. Dua. Titik-titik basah mengenai kulit tangan Seungcheol. Joshua jarang menangis. Bahkan ketika hampir semua member, seluruh fans mereka, menangis tersedu-sedu, Joshua tidak menangis. Ketika dia menangis di depan orang lain, itu disebabkan faktor krusial yang hampir mengorbankan pekerjaan dan hidupnya. Tapi, kali ini dia menangis di hadapan Seungcheol yang dengan cepat menarik tangannya, terkejut dan tertegun.
“Kalo Jeonghannie balik…,” isak Joshua. “…Lo nggak akan ngejauhin gue lagi kayak sebelomnya?”
“Shua—”
“Kalo Jeonghannie balik,” dia menolak berhenti. “Lo nggak akan nganggep gue nggak ada lagi kan? Bakal tetep nyari gue di atas panggung, melok gue kayak biasa?”
Seungcheol menahan napas tanpa disadarinya.
“…Gue bukan pengganti Jeonghan doang kan, Seungcheol-ah?”
Napas tersentak, lalu terhela. Seungcheol serta-merta meraih tubuh Joshua untuk dipeluknya erat. “Jangan liat. Jangan baca. Jangan denger yang aneh-aneh, Shua. Gue sering bilang kan? Ke elo, ke member, ke Carat. Percaya sama gue. Kalo lo nggak tau apa yang musti lo percayain, percaya aja sama gue,” ditangkupnya pipi Joshua sembari disekanya air mata dengan ibu jari. Seungcheol mendengus, antara geli dan sedih. “Lo nggak pernah nangis. Jangan nangis gegara hal ginian doang dong, cupu banget.”
“Coba aja lo yang dijadiin third wheeler mulu, apa nggak kepikiran juga,” meski masih terisak, Joshua jadi ketawa. “Ada konten lo nempelin gue selama konser, dibilangin gegara Jeonghan nggak ada, ya sama gue bolehlah. Ato dibilangin Jeonghan ngawasin lo, Cheol, ati-ati lah. Ato itu Joshua, Cheol, bukan Jeonghan lah. Sama juga kalo gue deket sama Mingyu ato sama Seungkwan. Bahkan kalo ada konten gue sendiri, komennya bilang emang nih evil twin Jeonghan. Apa-apa gue dikaitin sama Jeonghan, sama orang lain, seakan gue sendiri nggak keliatan di mata mereka: gue cuma kembarannya Jeonghan, cuma member yang suka bikin malu. Gue salah ucap aja dibully, diulang-ulang terus, sampe Mingyu harus bantu klarifikasi di Live-nya.”
Joshua lalu menghela napas.
“Makanya gue suka males deket sama lo, seolah gue ganggu ‘hubungan’ lo sama Jeonghan di mata fans kalian…”
“Shua. Kita semua tau fans masang-masangin kita. Gue sama Jeonghan. Lo sama Seokmin. Mingyu sama Wonwoo. Jun, Hao, Vernon, Seungkwan. Kita semua tau itu.”
Tentu saja. Siapa yang tidak tahu? Sejak debut pun semua idol dan perusahaannya sadar pengaruh shipping dalam retensi grup.
“Dan kita semua tau itu semua halu. Lo temen gue, sodara gue. Lo dan semua member. Jangan jauhin gue gegara komen halu fans kita, Shua. Jangan kalah sama mereka. Lo bukan Jeonghan. Lo bukan kembarannya Jeonghan. Lo bukan pengganti Jeonghan. Lo bukan pengganti siapapun. Lo Joshua Hong. Lo anak nyokap lo yang paling dia sayang di dunia,” diambilnya poni Joshua untuk dia selipkan ke belakang telinga. “Lo cantik. Lo baek. Lo peduli sama orang-orang. Brand-brand kelas dunia yang milih lo bisa liat nilai diri lo itu, kenapa lo malah milih ngeliat nilai diri lo dari komentar fans halu?”
Joshua termenung, seperti dimarahi tapi juga dibukakan mata.
“Gue akuin gue juga salah soalnya otomatis nempel Jeonghan dimanapun, cuma itu…apa ya? Refleks? Soalnya apa-apa gue obrolin sama Jeonghan. Pergi makan pun seringnya sama dia…”
“Bukan itu,” potong Joshua. “Gue nggak permasalahin itu. Chemistry pas berdua kan emang ngaruh. Maksud gue, kalo Jeonghannie nanti udah balik wamil, lo jangan anggurin gue lagi kayak sebelomnya.”
Seungcheol mengangkat sebelah alis. “Beneran?” tantangnya. “Ntar makin banyak yang komen lo ngerebut gue dari Hannie, ato gue selingkuh sama lo.”
“Kata lo fans halu dibiarin aja yapping?”
Mereka ketawa. Seungcheol maju untuk mencium kening Joshua yang notabene membuat mata Joshua melebar dan mulut terbuka, kaget tetapi senang. “Susah banget nyium lo di publik. Hannie sampe misuhin gue seharian gegara lo nolak dia cium pipi lo,” tuduh Seungcheol.
“Eh, for the record, tuh bangke nyiumin pipi gue hampir tiap hari ya. Harus banget dia jail nyium gue depan kamera internasional? Sengaja banget ngajak berantemnya??”
Seungcheol ketawa lagi. Padahal jelas sekali siapa orang yang paling Jeonghan sayang. Tentu, semua member saling sayang satu sama lain. Mereka keluarga. Teman sehidup semati bersama. Tapi mereka memiliki cara menyayangi masing-masing yang unik dan yang paling unik, menurut Seungcheol, ya si Jeonghan itu.
Setelah semua mereda, Joshua dan Seungcheol lanjut berlari. Langkah mereka secara ajaib lebih ringan dari sebelumnya. Di suatu kesempatan, Mingyu menelepon, menanyakan Joshua di mana dan apa dia tidak mau jogging pagi bareng.
“Lagi jogging sama Cheol nih.”
[“Hah? Bang, sejak kapan lo jogging pagi sama Joshua?”]
“Diem, Mingyu, jangan monopoli Shua ya lo.”
[“Maksud?? Dia officially temen bertualang gue??”]
Joshua cuma ketawa saja mendengar mereka bertengkar. Diangkatnya kepala. Matahari sudah mulai naik. Sebentar lagi, jalanan akan dibersihkan dan kafe-kafe akan mulai melayani pelanggan pagi mereka. Udara akan berganti menjadi berbau kopi serta pastry. Joshua mengingatkan diri untuk mampir ke toko cokelat yang menarik perhatiannya pas mereka lewati tadi. Dia ingin membeli beberapa boks untuk oleh-oleh untuk keluarganya dan untuk membernya, keluarga keduanya. Orang-orang yang menyayangi Joshua sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai substitusi. Orang-orang yang mengenal aslinya Joshua dan memutuskan untuk tetap menyayanginya meski belasan tahun telah berlalu.
Dari kota Paris ke kota Seoul: 8.922 kilometer.
Jarak yang telah Joshua tempuh dari rumahnya di Los Angeles untuk berkumpul bersama membernya, walau dia tidak tahu apakah mereka akan debut, apakah akan sukses, apakah mereka mau menerima dirinya si orang asing yang bahkan tidak bisa berbahasa Korea dengan lancar: 9.625 kilometer.
Joshua menang.


