Gyushua AU: Idolverse, Married life, Gyushua is married and forever in love your honor, Celebrity family, Domestic life, Fluff, Mpreg, Biological child, Usage of mother/mama for males bearing children
“Kim Chaerin.”
Sepasang mata bulat berwarna coklat gelap memandang dari balik bulu mata pekat. Bahkan di usia lima, Kim Chaerin telah mencuri hati semua orang yang pernah bertemu dengannya. Ceria dan pemberani, dia tidak pernah segan untuk mengajak berkenalan terlebih dahulu. Empatinya pun luar biasa untuk anak seumuran dirinya; mengetahui apa yang harus dikatakan atau dilakukan dalam kondisi tertentu. Misalnya, apabila mata lawan bicaranya terlihat berkaca-kaca oleh kesedihan tertahan, maka dia akan menepuk-nepuk pelan tangannya, memberikan kehangatan tulus yang dibutuhkan mereka saat itu.
Selain sifatnya yang menyenangkan, Kim Chaerin pun cantik luar biasa. Bulu matanya lentik. Bibirnya merah dan penuh. Hidungnya mancung dan berbentuk bulat lucu dengan setitik andeng-andeng kecil di ujung. Rambut hitamnya lurus dan panjang, berkibar indah dihela angin bulan April yang membawa harum bunga ceri. Pakaiannya sederhana dan manis, tetapi bila ditelisik lebih dekat, para ibu akan melongo melihat bagaimana dari ujung rambut hingga sepatu anak perempuan itu dibaluti merk ternama. Chanel, Dior, Prada, bahkan darinya tercium samar wangi parfum Bulgari.
Kim Chaerin tak ayal adalah pusat pembicaraan, baik oleh pihak murid maupun guru di Dwight School Seoul, sebuah sekolah internasional di distrik Mapo, Seoul, serta para orangtua murid. Seperti saat ini ketika pertemuan para orangtua murid tengah berlangsung. Kelas akan dimulai dengan para orangtua mengamati dari belakang, sebuah cara bagi mereka untuk mengetahui seberapa baik para guru yang mereka percayai dalam mengajari anak-anak mereka dan sekaligus ajang bagi para murid untuk membuktikan kemampuan mereka di depan orangtua masing-masing. Antusiasme yang, nampaknya, tidak dibagi kepada Kim Chaerin hari itu.
“Mama sama Papa Chaerin apa nggak bisa datang?” dengan cemas, Miss Jang bertanya. Guru wanita itu berjongkok agar pandangan mereka sejajar. Semua undangan telah tiba kecuali orangtua Kim Chaerin. “Ato ada perwakilan yang bakal datang? Mungkin paman atau bibi?”
Kim Chaerin menggeleng, lalu mengerutkan alisnya. Bibir mungil membentuk huruf U terbalik. Hati Miss Jang bagai luluh melihat kekecewaan di wajah anak itu. “Papa Mama bilang bakal dateng kok…,” lirihnya dengan kegetiran seorang anak yang sedikit lagi akan menangis. “Tadi pagi Papa bilang Papa bakal agak telat, tapi Mama bilang bakal dateng…”
“Kenapa? Kenapa? ChaeChae diapain? Siapa yang jahatin??”
“Nggak ada yang jahatin Chaerin, Kenta,” Miss Jang menyela sambil menghela napas lelah. Anak lelaki bernama Kenta itu malah tidak mengindahkan dan langsung meraih kedua tangan Chaerin, mengenggamnya erat.
“Pokoknya ChaeChae tenang aja, aku bakal lindungin ChaeChae dari apapun yang bikin ChaeChae sedih!”
Miss Jang memutar bola mata, sedangkan Chaerin mengedip-ngedip. “Beneran…?” gumamnya.
“Beneran dong!” seakan ada hembus napas keluar dari lubang hidungnya, anak bernama Kenta itu menepuk dadanya sendiri. “Tenang aja! Kata Mamaku, aku kuat kayak tronton! Ntar aku lindes semua yang bikin ChaeChae sedih!”
“Oh? Bocah, berani juga kamu?”
Miss Jang luput menyadari kedatangan seorang lelaki ke ruang kelasnya karena fokusnya tersita oleh kedua anak itu. Barulah ketika dia menoleh, dia menyadari bahwa para ibu heboh mengeluarkan handphone, berbisik-bisik kencang dan menutupi mulut mereka, beberapa menjerit pelan karena tak sanggup menahan luapan rasa senang, sementara para bapak dan anak-anak memandangi dengan rasa takjub. Beberapa bertanya pada istrinya siapakah gerangan lelaki yang membuat gempar seisi kelas tersebut hanya untuk dimaki oleh istri mereka karena, well, bagaimana mereka bisa tidak tahu akannya, seorang nama besar di dunia selebriti Korea Selatan?!
Miss Jang hampir lupa caranya bernapas. Dalam jarak dekat, Kim Mingyu begitu tampan dan tinggi, leher Miss Jang harus mendongak lebih lagi agar bisa menatap wajahnya. Benar-benar tanpa cela.
“O-Om siapa?!” itu Kenta, sudah berusaha menempatkan dirinya di antara lelaki asing itu dan Chaerin. “ChaeChae, berlindung di belakang aku—”
“PAPA!!”
“Papa??” seruan pertanyaan yang menggema di ruangan tersebut. Siapa sangka bahwa Kim Chaerin adalah anak dari seorang Kim Mingyu??
Kim Chaerin sontak berlari menabrak lengan Kenta yang menjulur, membuat anak lelaki itu terhuyung dan berakhir diselamatkan oleh Miss Jang. Melihat anak gadisnya berlari kencang ke arahnya, Kim Mingyu tersenyum dan membuka lengannya lebar, menyambut sang putri dalam pelukannya yang besar dan selalu hangat.
“Maaf ya, Papa telat,” diciuminya lembut sisi kepala sang putri. “Chaerin udah nungguin dari tadi ya?”
“Hiks, iyaa, abisan Papa nggak dateng-dateng,” sedu-sedan si anak ditenangkan oleh kecupan demi kecupan yang diberikan sang ayah. “Mama juga, katanya mau dateng…”
“Oh, kalo Mama, tadi Papa—”
Kembali kehebohan terdengar di sekeliling mereka. Belum cukup seisi kelas dikejutkan oleh kedatangan Kim Mingyu—mantan idola, model kelas dunia, brand ambassador berbagai merk ternama yang hampir tiada hari berlalu tanpa wajahnya muncul di televisi—kini mereka menyaksikan kedatangan seseorang yang tidak kalah mengejutkan walau dengan alasan yang sedikit berbeda. Lelaki yang baru saja memasuki ruangan tersebut mengenakan kacamata hitam sehingga identitasnya tidak segera dikenali. Namun dari bentuk hidung, bibir serta rahangnya yang tegas, mereka bisa menyimpulkan betapa cantik lelaki itu. Kemeja satin yang dikenakannya jatuh dengan sempurna di tubuhnya yang proporsional—bahu lebar dan pinggang sempit. Tulang selangkanya nampak, menambah aura seksi yang terpancar darinya tanpa malu-malu. Celananya berukuran pas, menonjolkan bentuk tubuhnya yang sangat indah. Setiap jengkal dari dirinya membawa kesan elegan dan mahal.
(Dan memang mahal, mengingat tiap helai pakaiannya keluaran berbagai merk mewah.)
Perlahan dilepasnya kacamata hitam dan tersenyum, “Chaerin.”
Pekikan dan tarikan napas bersahut-sahutan. Para ayah berusaha menenangkan istri mereka namun sepertinya sia-sia belaka. Bagaimana mereka tidak menjerit, gemetaran merekam dan memfoto tanpa henti, bila yang baru saja datang adalah Joshua Hong? Joshua Hong, juga mantan idola, soloist, model kesayangan brand global dan kini aktif sebagai aktor Hollywood?
Terbiasa oleh semua perhatian itu, Joshua berjalan mendekati keluarga kecilnya untuk mengelus pipi anak gadis semata wayangnya dalam gendongan sang suami. “Maaf Mama telat. Tadi mobil Mama mogok, jadi Papa jemput Mama dulu. Kamu udah nunggu ya, Sayang?” tutur katanya halus dan keibuan. Suara yang sanggup membuat Chaerin terlelap pulas di malam paling menggelisahkan sekalipun.
Anak perempuan itu mengangguk-angguk. Dari jarak mereka yang cukup dekat, Miss Jang akhirnya paham kenapa Kim Chaerin seolah tidak asing. Wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan Joshua Hong, dengan sedikit sekali sentuhan Kim Mingyu di sini dan di sana. Dad’s genes didn’t even try. Kenapa dirinya baru menyadarinya sekarang?
“Miss,” mendengar panggilan itu menyadarkan Miss Jang ke keluarga kecil di hadapannya. Joshua Hong tengah tersenyum padanya. Dirinya, seorang guru biasa di sekolah biasa. Rasanya dia hampir gemetar sebadan-badan.
“I-Iya?” jawabnya gugup.
Senyuman Joshua Hong semakin manis saat dia menundukkan kepala sedikit. “Maaf kami datang terlambat. Kami orangtua Chaerin. Terima kasih karena sudah menjaga Chaerin selama ini,” tepat saat itu, sang putri mencoba menggapai ibunya dan Mingyu memindahkan Chaerin ke gendongan Joshua. “Kami harap Chaerin berlaku baik di sekolah seperti halnya di rumah.”
“A-i-itu-tentu—” menyaksikan dua orang yang dulu pernah tergabung dalam grup idola yang disukai Miss Jang ketika masih kecil kini tengah berbincang dengannya, bahkan beterima kasih padanya, tentu membuat lidah Miss Jang hampir-hampir kelu. Bagai impian masa lalu yang mendadak saja terwujud tanpa angin dan hujan. “Nggak—eh, tidak perlu berterima kasih, sudah tugas saya—”
Joshua tertawa kecil. Pipi Miss Jang makin memerah. Lelaki secantik dirinya, sungguhlah tidak nyata. “Kalau begitu, silakan dilanjutkan kelasnya. Maaf sudah mengganggu,” Joshua mengecup kening putrinya. “Chaerin dengerin Miss ya. Papa Mama bakal di belakang Chaerin.”
“Nanti pulang es krim?”
Mingyu memutar bola mata. “Iya, kan Papa udah janji,” ucapnya. “Nanti kita mampir kafe Om Seungmin.”
“Nggak apa tuh?” Joshua menatap suaminya.
“Bang Cheol yang ngajakin, sekalian ketemuan katanya.”
“Hmm…”
Memeluk ayah dan ibunya sekali lagi, Chaerin kemudian melompat turun dan kembali ke bangkunya, menggeret Kenta juga bersamanya. Joshua dan Mingyu saling bertukar pandang. Mingyu mendengus kesal, sedangkan Joshua, lagi-lagi, tertawa. Suaminya itu memang sangat protektif terhadap putri mereka.
“A-anu—”
Mereka mendapati Miss Jang di hadapan.
“A-aku fans kalian! M-maksudku Seventeen. Aku fans Seventeen dari dulu sampai sekarang! Aku suka banget kalian dan—dan—Seventeen dulu yang nemenin aku pas hidupku nggak baik-baik aja. Musik kalian jadi penyemangatku setiap hari. Jadi aku, eh, mau bilang terima kasih karena kalian udah nyiptain musik begini indah dan, mm, te-terima kasih karena udah milih jadi idola. Emm—” rasa-rasanya Miss Jang mau menangis tapi ditahannya. “T-terima kasih…”
Mingyu yang bereaksi terlebih dahulu dengan menepuk-nepuk pundak Miss Jang. Joshua kemudian memberikan sehelai tissue karena, tanpa disadari Miss Jang sendiri, air mata telah mengalir.
“Terima kasih udah selalu sayang sama Seventeen,” jawab Mingyu dengan lembut, membuat tangis Miss Jang tambah meledak.
Kemudian, para ibu yang tadinya berupaya menahan diri akhirnya ikut mengerubungi Miss Jang dan pasangan selebritis itu.
“A-aku juga! Aku juga fans Seventeen dari masa tembok hijau!”
“Aku stan kalian sejak Covid dulu!”
“Nggak nyangka banget anakku sekelas sama anak member Seventeen, ya Tuhan!”
Entah bagaimana Joshua dan Mingyu bisa melewati hari ini dengan damai bila kondisinya jadi seperti ini. Mereka kembali saling memandang, tertawa dan mencoba menenangkan keramaian bagai profesional (dan, yeap, mereka memang profesional.) Perlu waktu yang agak lama hingga kelas bisa berjalan kembali dan mereka mengamati bagaimana putri mereka aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Kim Chaerin, usia lima. Anak perempuan yang paling dibanggakan kedua orangtuanya. Joshua melingkarkan lengan di pinggang belakang suaminya dan Mingyu, tak sanggup menahan kebahagiaan serta rasa cintanya yang berlebih pada keluarga terkasihnya, balas memeluk lengan Joshua.
“Putri kita sempurna kayak kamu,” bisiknya pada Joshua.
“Mm,” Joshua terkekeh dan balas berbisik. “Dia juga sempurna kayak kamu.”
Dan Chaerin, diam-diam memergoki orangtuanya berpelukan mesra, tersenyum semakin lebar. Hari ini betul-betul hari yang sangat indah bagi keluarga kecil Kim.
