Gyushua AU: ABO, School AU, Age gap, Underage, Mentioned Mpreg, Past Jihan, Beta-to-Omega, Beta bitching
Sebagai seorang guru SMA, Joshua sangat bersyukur dirinya terlahir Beta. Setiap hari dikelilingi hormon-hormon yang masih bergejolak tentu akan lebih banyak menimbulkan kesulitan apabila dirinya seorang Omega. Mudah saja bagi Joshua menangani Alpha baru yang menyebarkan feromon pra-estrusnya kemana-mana dan membuat kericuhan di ruang kelas karena dia tidak terpengaruh sama sekali. Mudah saja bagi Joshua menenangkan para Omega yang ketakutan dengan mengeluarkan feromon Betanya sendiri: aroma katun yang bersih dengan percik sari bunga Mimosa. Harum yang lembut bagai bedak tabur serta agak manis bagai madu. Dia dikenal sebagai Hong-sen yang disukai banyak muridnya karena ramah dan keibuan. Bersamanya saja sudah membuat jiwa-jiwa muda itu tenang.
Namun, ketenangan Joshua sebagai Beta tidaklah berlangsung lama, terlebih setelah Jeonghan—kekasihnya selama dua tahun belakangan—memutuskan hubungan mereka. Terluka dan merasa tersia-siakan, Joshua mulai menyesali kenapa dirinya bukanlah Omega. Jeonghan seorang Alpha dari keluarga dengan garis darah yang kuat. Keturunan mereka selalu Alpha dari rahim para Omega terhormat, sehingga keluarganya menentang keras Joshua si Beta untuk masuk dan mengotori garis darah mereka. Terlebih lagi Joshua tidak akan mampu memberi Jeonghan anak. Meski Jeonghan berusaha melindunginya, Joshua memilih untuk perlahan menjauh dan, puncaknya, mereka putus kemarin malam.
Joshua, larut dalam kesedihan, tenggelam dalam alkohol. Menenggak gelas demi gelas sampai ia terkapar mabuk, kepala di atas meja bar, hampir tak sadarkan diri.
“Kak,” sebuah suara menyapanya—ringan, sedikit serak, terdengar khawatir. “Aku liat Kakak udah minum banyak. Udahan ya? Bar aku tutup buat Kakak. Better Kakak pulang aja. Ada yang nemenin Kakak?”
In vino veritas. Alkohol membuat mekanisme pertahanan diri dan lidah Joshua Hong melonggar. “Ng…hng, nggak…nggak ada…udah nggak ada,” diusreknya kepala ke lipatan lengannya di atas meja. Sesungguhnya tiada yang ingin Joshua lebih ingin lakukan selain pulang ketika mabuknya menyerang, namun kali ini pertanyaan sejuta dolarnya adalah: dengan siapa? Kekasihnya lebih memilih keluarganya dibanding dirinya. “Diputusin…cuma karena aku bukan Omega…” Kekehnya miris, seperti mau menangis. Mungkin Joshua memang sudah menangis. “Katanya Beta itu nggak ada gunanya…nggak bisa ngasih anak, kasta paling rendah…heh…”
Joshua kini terkekeh.
“Padahal dia aja cuma Alpha payah yang nggak bisa ngubah aku jadi Omega…”
Hening, selain keriuhan klub yang menjadi latar suara mereka saat ini. Suara itu berkata lagi, “…Jadi Kakak sebenernya mau diubah jadi Omega?”
Ujung hidung Joshua bergerak-gerak. Aroma kopi mulai menguar. Makin kuat, makin pekat. Aroma yang mendadak saja menyelimutinya. “Kalo ada Alpha yang bisa sih ya, why not…,” selorohnya, sebelum Joshua diam. Tertidur tenang. Secara aneh merasa nyaman.
Tanpa dia ketahui siapa pemilik suara dan feromon yang menemaninya sampai dia aman di taksi menuju apartemennya.
Mata Joshua membulat. Ia menatap sepasang mata lain yang tiba-tiba saja sudah memasuki zona pribadinya.
“Aku bersedia, Sen,” cengiran di wajah anak itu nampak terlalu santai untuk orang yang baru saja menyudutkan Joshua ke koridor sekolah yang sepi dan menawarkan diri untuk mengubahnya menjadi Omega.
Kim Mingyu. Anak pindahan di tahun kedua dari Anyang. Baru masuk saja, dia sudah mencuri perhatian baik murid maupun guru. Anak yang sopan dan friendly, sedikit jahil, kelewat aktif—mengingat dirinya adalah Alpha—namun bukan tipe bandel yang menyusahkan. Karena Joshua mengajar kelas tiga, dia tidak mengenal Mingyu selain pernah tidak sengaja menyaksikan anak itu melindungi teman Omega-nya di kantin sekolah dari ledakan pre-estrus Alpha lain, meski kejadian naas tersebut dengan cepat dipindahkan ke ruang kesehatan dan ruang kepala sekolah.
Anak yang sama yang menyurukkan wajahnya tepat ke depan wajah Joshua dengan seringai paling kurang ajar yang pernah dia lihat.
“Apa—”
“Sen mabok kan kemaren malem? Di klub, di downtown. Sen bilang diputusin karena Sen bukan Omega. Sen bilang kalo aja ada Alpha yang bisa ngubah Sen jadi Omega…,” Mingyu mengerling dari bawah ke atas, mereguk ekspresi kebingungan Joshua sepuas hatinya. “…so here I am. Your Alpha.”
Mereka bertatapan selang beberapa menit dalam diam. Hiruk pikuk sekolah seakan jauh dari pojok mereka yang cukup tersembunyi. Masih lama sampai bel sekolah berdering untuk menandakan istirahat siang telah selesai. Alis Joshua menukik, membentuk kerutan di tengah dahinya. Bibirnya sedikit membuka. Dia masih berusaha menyatukan potongan-potongan memori dalam kepala dengan murid SMA di hadapannya itu.
“…Kamu bartender itu?” akhirnya Joshua merespon.
“He-em.”
“Tapi…bukannya sekolah nggak ngebolehin part-time… Wait, lebih dari itu, tempat part-timenya yang—”
“Sen.”
Mingyu memotong. Joshua spontan membungkam mulut.
“Aku mau jadi Alpha Sen.”
Terlalu lurus, tatapan itu, mengunci perhatian Joshua sepenuhnya.
“Alpha yang bisa ngubah Sen jadi Omega seperti yang Sen mau…”
Bubuk kopi. Segar, baru digiling lalu diseduh dengan air panas. Wangi yang Joshua senantiasa temukan saat memasuki kafe langganannya pagi hari sebelum ke sekolah. Wangi yang menguar dari titik-titik feromon Kim Mingyu. Sekali pandang akan wajah Joshua, Mingyu sudah tahu dia telah memenangkan transaksi ini.
“Mau ya, Sen?” ditempelkannya pipi bagian bawah ke sisi kening Joshua. Sengaja, hidung Joshua pada ceruk lehernya. Sengaja, dikeluarkannya semua feromon tanpa kukungan apapun. Napas Joshua kian memburu. Peluh menitik. Beta yang harusnya tidak bereaksi sama sekali terhadap feromon Alpha, entah kenapa tak sanggup menahan dobrakan feromon Kim Mingyu, seolah serigala dalam dirinya akhirnya mengenali panggilan Alphanya. Menyadari itu, Mingyu menarik senyuman kecil.
“I’ll be a good boy just for you, Sen…”
Ah, sialan. Bisa apa Joshua selain mengerang, membuat senyuman Mingyu semakin lebar. Dia sudah mendapatkan Omega-nya.



