Gyuhao Drabbles for Gyuhao Day 2024 Jakarta Cafe Event
“Capek banget gue.”
Soonyoung ketawa. “Kenapa, Bang?” tanyanya pada Seungcheol. Sebagai ketua dari semua klub aka ketua osis, adalah tugas Seungcheol untuk membahas segala sesuatu yang terjadi di sekolah bersama wakilnya, Kwon Soonyoung. Apalagi, Soonyoung sedang dipersiapkan untuk menjadi penggantinya tengah tahun ini.
“Lo tau Kim Mingyu kan?”
Soonyoung mengangguk. “Tetangganya Won,” tambahnya.
“Oh? Dia tetangga Wonu?” kedua alis Seungcheol terangkat. Soonyoung pun mengangguk lagi. “Hee…baru tau nih gue…”
“Kenapa emangnya dia, Bang?”
“Si Hao,” Seungcheol memangku dagunya dengan kedua punggung tangan di atas meja. Helaan napas pun keluar. “Dia dateng ke gue buat ngadu. Dia bilang dia digangguin sama si Kim Mingyu itu. Sering ketemu kalo dia keluar dari kelas, terus suka nanya-nanya, ngintilin. Udah ganggu banget, katanya, sampe dia nggak bisa dateng ke meeting osis kemaren soalnya Mingyu nggak mau pergi juga, dia jadi perlu pura-pura kabur, lari pulang ke rumah.”
“Mingyu? Kim Mingyu yang itu?” Soonyoung mengernyit. “Ini ngomongin Kim Mingyu yang sama nggak sih?”
“Kok? Emang kenapa, Soonie?”
“Soalnya Mingyu yang gue sama Wonu kenal bukan anak kek gitu deh…,” diusapnya dagu pelan-pelan. “Anaknya tuh baek, Bang. Too kind for his own good malah, potensi dimanfaatin orang. Temennya banyak karena emang dia gampang bergaul gitu, pun pedenya selangit, tapi kalo sampe ngegangguin orang kek gitu…kayaknya enggak mungkin…”
“Hmm, tapi namanya kan orang kita nggak bisa tau aslinya gimana, Soon…”
“Iya sih, Bang…,” Soonyoung masih nggak percaya sama deskripsi Mingyu yang barusan dia dengar. “Tapi aneh banget… Rasanya tuh kayak kalo ada orang bilang ke elo kalo Bang Han sama Bang Shua tuh personifikasi malaikat jatoh dari langit.”
Seungcheol mendecakkan lidah, “Fix kena pelet itu mah.”
“Kan?” Soonyoung ketawa. “Itu yang gue rasain. Yakin tuh si Hao nggak ngerasa aja? Bukannya gimana-gimana, tapi mungkin dia yang salah paham…bisa aja kan? Kita toh nggak tau lagi kek gimana keadaannya pas mereka ketemu itu.”
Seungcheol mempertimbangkan dalam diam. Perkataan Soonyoung ada benarnya juga. Tadinya dia udah siap mau ngelabrak Kim Mingyu—si anak kesayangan klub bola—itu, nyuruh dia jangan ganggu calon sekretaris osis-nya buat gantiin posisi Jihoon tahun depan (karena Jihoon udah digadang-gadang jadi wakilnya Soonyoung dari awal), tapi dia jadi ragu.
“Lagian, Bang, kalopun gue nggak gitu kenal dia, Wonu pasti lebih tau lah Mingyu itu gimana. Mereka tetanggaan dari bayi soalnya.”
Sebuah ide pun tercetus di kepala Choi Seungcheol.
“Mingyu? Anaknya gimana?”
Seungcheol menatap ketua klub literatur itu menaikkan bagian tengah gagang kacamatanya, sebuah gestur khas Jeon Wonwoo ketika sedang berpikir. Soonyoung duduk di antara Seungcheol dan Wonwoo seakan menjadi penengah. Mereka lagi di perpustakaan, tepatnya di salah satu sudut sepi tempat Wonwoo biasa menghilang dari keramaian.
“Gue mau nanya ama lo. Ngomong yang jujur ke gue. Kim Mingyu tuh anaknya kayak gimana?” tatap matanya lurus pada Wonwoo, menyatakan betapa serius bahasan mereka saat itu. Tentu Wonwoo nggak segitu begonya sampai nggak bisa menangkap maksud tatapan Seungcheol. Dengan sama seriusnya, dia pun menanggapi. Wonwoo menarik napas.
“Anjing kecil keperangkap di badan gede. Otaknya pinter tapi kelakuannya agak dongo. Nggak ada satu pun bibit jahat ada di dalem dia. Dunia di mata dia isinya cuma bunga, pita, gula dan pelangi. Pas buat dia, mungkin adonannya kecampur sama adonan anak cewek.”
“…Hah?”
“Hobi main bola sampe sekarang dan pernah jadi ketua klub bola di SMP. Pas SD, dia ketua klub jahit di sekolahnya. Belajar masak dari kecil biar bisa masakin ibu sama adek perempuannya, sampe sekarang pun jago masak macem-macem. Sebenernya nggak suka bersih-bersih tapi dia suka risih sendiri kalo liat rumah berantakan. Kontrasnya, dia sendiri yang suka ngehancurin barang karena apa yang dia pegang sering somehow jatoh gitu aja. Terus apa lagi ya… Dia juga suka fotografi, mancing, akhir-akhir ini suka ngintil Jihoon ngegym juga…”
“Sungguh…precise…”
Wonwoo mengedikkan bahu. “Lo seserius itu nanyanya ya gue juga serius jawab lah,” selorohnya. “Emang kenapa sih, Coups? Soal Mingyu sama Minghao lagi?”
Agak terkejut, Seungcheol menengadah menatap Wonwoo. “Tau dari mana lo?” tuduhnya.
Mendengar itu, Wonwoo agak membuang muka.
Seungcheol menebak seenak udelnya, “Hani ya?”
Rona merah menjalari pipi hingga ujung telinga si anak berkacamata itu, membuatnya menaikkan lagi bagian tengah gagang tersebut. “…Perasaan kita lagi ngomongin Mingyu sama Minghao, tolong jangan melenceng dari topik semula,” dehaman salah tingkah. “Kalo bener itu concern lo, gue bilang sih lo buang-buang waktu aja. Mingyu bukan anak jahat, Coups. Dia nggak akan gangguin Minghao kalo nggak ada sebabnya.”
“Masalahnya, Hao udah ngerasa keganggu banget, Won…,” jidat Seungcheol mengernyit. “Harassment or not, yang valid itu yang dirasain korban…”
“Kalo kata gue, kita harus denger dari pihak Mingyu juga nggak sih? Sebelom ngambil keputusan sendiri.”
Dua kepala spontan memutar ke arah Soonyoung. Dia yang sedari tadi diam, begitu angkat bicara, secara ajaib terdengar bagai solusi paling masuk akal. Anak Kwon itu mengedip-ngedipkan matanya, bingung karena mendadak ditatap keheranan oleh dua orang temannya itu.
“Nyong, kaget gue… tumben lo nyambung…”
“Soonie, Abang bangga lho sama lo…”
“MAKSUD???”
Mengendap-endap, ketiga orang itu (plus Jeonghan, karena kebetulan tadi ketemu dan nggak mungkin Wonwoo nggak ngajak gebetannya yang super kepoan itu) memerhatikan dari jauh punggung Mingyu yang lagi berjalan menyusuri lorong sekolah. Dengan kedua tangan dalam saku, anak itu agak setengah melompat-lompat sambil mendendangkan melodi tanpa lirik. Kelihatannya lagi bahagia banget.
“Soon, lo yakin kalo Mingyu bakal nemuin Hao?” Seungcheol berbisik.
“Yakin. Tadi dia ngechat gue, minta ditemenin pulang. Gue rasa gegara Mingyu dia takut pulang sendiri. Udah gue iyain, jadi harusnya sih dia lagi nungguin gue.”
“Tuh kan,” dengus si ketua osis. “Bener kan kalo si Mingyu ini ngapa-ngapain Hao—”
“Ssh! Cheol, diem!” itu Jeonghan yang menyela.
Sontak, pembicaraan mereka terhenti karena, tepat depan mata mereka, Mingyu menghampiri Minghao. Reaksi anak cowok jangkung itu bukan seperti orang ketakutan ketemu pembully, melainkan naik pitam.
“Ngapain lagi sih lo?!”
“Hao~” kontras, Mingyu begitu berbunga-bunga karena bisa berbicara dengan Minghao setelah melewati berbagai kelas yang cukup membosankan. “Hari ini meeting osis ya?”
“Bukan urusan lo!”
“Nggak ada kah? Kalo nggak ada, pulang bareng yok! Gue juga nggak ada latihan kok hari ini~”
“Jangan bohong! Seok bilang lo akhir-akhir ini suka bolos latihan!” masih bentak-bentak, Minghao memunggungi Mingyu kini. “Gue udah janjian balik bareng Bang Soonyoung, jadi lo latihan aja sana!”
“Hao… ternyata lo segitu pedulinya sama gue…,” terkesiap, mata Mingyu berkaca-kaca. Gimana enggak hepi? Selain tau kalau Mingyu sebenarnya ada latihan tapi dia bolos, Minghao juga sengaja (at least, di benak Mingyu) minta orang lain nemenin dia pulang biar Mingyu nggak bolos lagi. “Hao~”
Dipeluknya Minghao dari belakang erat-erat.
“APASIH?!! BERAT AH! LO GEDE, WOI, SADAR DIRI!! LEPASIN!!” Minghao berontak sejadinya, tapi Mingyu malah memeluknya lebih erat lagi.
“Gebetan gue emang the best dehhh~” dielusinya sisi kening Minghao, mengusrek rambutnya hingga teracak, dengan pipi. “Suka banget, suka, suka, suka, gue suka bangeettt sama lo, Hao~ Sayangnya Gyu~”
Muka Minghao semerah tomat mateng, “G-GYU, ADUH NYESEK—GUGUK BEGO, LEPASIN NGGAK?!!”
“Gyu anterin pulangnya ya, Haohao? Hehehe~” ❤❤❤
.
.
.
“Dahlah, gue balik aja.”
Jeonghan masih ngakak jadi spektator itu semua ketika Seungcheol, dengan ekspresi males banget anjerrr balik badan, bersiap pulang. Sia-sia banget emang udah cemas sama dua orang idiot lagi dimabuk cinta. Wonwoo lagi sibuk nenangin Jeonghan soalnya yang lebih tua itu kenceng banget ngakaknya sampai diliatin anak-anak lain yang lewat koridor, takut disangka kesurupan, sedangkan Soonyoung meringis ke arah punggung Seungcheol.
“You’re welcome, Bang,” selorohnya.
Yang dibalas Seungcheol dengan acungan jari tengah.