Gyushua x Woncheol: School AU, Supernatural, Ghost/Human, Fluff, Mingyu is a brat, based on Touzoku-tachi no Senichiya by Omi Ayuko
“JOSHUA!”
Grrekk!
Bunyi pintu kelas yang digeser kasar membuat Joshua mendongak dari buku yang tengah dibacanya. Kacamata lensa minus-nya bertengger di ujung hidung, hampir jatuh dan agak kotor oleh bekas sidik jari. Ketika ia menaikkan bagian tengah kacamatanya, barulah saat itu dilihatnya siapa yang baru saja memanggil namanya.
“Kim Mingyu,” berkata begitu, si anak lelaki mengulum senyuman manis. “Ada apa ya?”
“Nggak usah sok nggak tau!” Mingyu yang badannya lebih besar dari Joshua berderap galak hingga ia mengukung Joshua di duduknya dengan kedua lengan di masing-masing sisi. Malam telah turun. Wajah mereka yang kini berdekatan tertimpa cahaya bulan temaram. “Lo harusnya bilang ke temen lo yang di perpus itu buat nggak godain Bang Cheol! Orangtua Bang Cheol ngadu ke gue kalo dia hampir nggak makan, nggak tidur, beberapa hari belakangan ini! Pasti temen lo yang di perpus itu yang ngambil energi dia, kan?!”
Tuduhan tidak berdasar. Alih-alih terintimidasi, Joshua mengendus geli.
“Ah, Mingyu-yah, kamu emangnya nggak takut kah, mati ditendang kuda?”
“…Hah?”
Joshua mengangkat telunjuk kanannya untuk menyapu bibir bawah Mingyu, seketika membuat anak lelaki itu kaku sebadan-badan.
“Kalo kamu ngeganggu dua orang yang lagi kasmaran, nanti kamu mati ditendang kuda lho,” Joshua terkekeh pelan. “Tapi, yah, bagus juga sih kalo kamu mati karena itu. Akhirnya kamu bisa jadi wakilku terus di sini.
Selamanya.”
Jakun Mingyu naik-turun oleh degukan ludah. Terkadang, ia lupa kalau Joshua bukanlah makhluk dunia ini sepertinya. Bagaimana tidak? Tepat setengah tahun semenjak mereka pertama bertemu dan Joshua kian hari kian cantik saja, membuatnya terlena akan jati diri asli sang pemuda. Perlahan tapi pasti, Mingyu meluangkan waktu sampai matahari terbenam, beralasan macam-macam (tugas OSIS, inspeksi sekolah, rapat tak berkesudahan, main basket sampai lupa waktu, dan sejenisnya), hanya agar bisa bertemu dengan Joshua dari sekolah malam.
Ya, kamu tidak salah baca. Joshua Hong berasal dari sekolah malam. Tidak seperti manusia hidup, para arwah hanya bisa melanjutkan masa muda mereka yang mendadak saja terputus di sekolah malam. Anak-anak yang menjalani hari mereka seperti biasa namun, tetau saja, tidak ada lagi raga tempat mereka untuk kembali. Mereka hanya bisa datang kemari, bertingkah seolah mereka tidak pernah pindah dunia dan melanjutkan hidup sebagai murid abadi.
“…Siren. Stop godain gue juga,” Mingyu menarik wajahnya dari sentuhan Joshua, lalu mendecak. “Gue nggak sebego Bang Cheol ya. Bisa-bisanya naksir sama setan. Gila apa?”
“Lho, emangnya kenapa?” si anak lelaki lalu berpindah duduk ke meja. Ia tumpangkan kaki kiri di atas lutut kanan. “Wonyu tuh imut banget kok. Imutnya nggak kaleng-kaleng. Jauh lebih imut dari kamu juga. Wajar aja kalo temen kamu naksir sama dia.” Joshua memberengut. Alisnya kuyu dan matanya sayu. Bibirnya yang merah pun manyun, membuat hati Mingyu berdesir oleh urgensi aneh yang mendadak muncul. “Jangan sebut Wonyu setan… Wonyu temenku… aku sedih kalo kamu bilang gitu…”
Ah. Ah, bangsat. Setan kok bisa segemes ini sih, anjir lah…
“…Jangan pasang muka gitu dong,” Mingyu menghela napas panjang. “Terus apa maksud lo gue imut, hah? Gue nggak imut! Gue cowok!”
“Masa? Gyu-yah imut kok,” jawabnya terkejut.
“Nggak imut!”
“Imut! Buktinya kalo aku deketin kayak gini—” tiba-tiba saja, Mingyu merasakan hangat di hidung dan bibirnya. Lengan Joshua merangkul erat di sekeliling lehernya, menarik wajahnya mendekat. Mingyu tidak sempat bereaksi apapun saat mata cokelat gelapnya tampak begitu dekat. Bibir mereka tidak bersentuhan. Bisa saja, toh Mingyu hanya perlu menutup jarak sebegitu dikitnya untuk (akhirnya) membuktikan teori apakah bibir Joshua selembut kelihatannya selama ini. Tapi, Mingyu tidak mau. Di hadapannya itu adalah arwah, jiwa manusia tanpa raga yang harusnya sudah pergi ke khayangan atau ke ketiadaan sejak lama.
…Namun, apakah jiwa tanpa raga bisa menghembuskan napas hangat seperti apa yang ia rasakan saat ini?
Tidak masuk akal, bukan? Karena yang bisa bernapas seharusnya hanyalah manusia yang masih hidup.
“—muka kamu jadi merah banget, Gyu-yah.”
Saat itulah ia menyadari kalau wajahnya telah merona merah hingga ke ujung telinga seperti biasanya. Ditambah suasana sepi ruangan OSIS disinari sinar bulan, tentu menambah kesan romantis yang pasti membuat siapapun yang memergoki mereka salah paham. Seakan mereka adalah pasangan yang tengah berkasih-kasihan di sekolah pada malam hari.
Joshua meringis jahil, membuat Mingyu segera mendorongnya menjauh. Bahaya, bahaya. Kakek Mingyu yang telah tiada selalu mewanti-wantinya agar jangan terlena oleh tipu daya makhluk halus, semanis dan selembut apa pun itu. Mungkin, di suatu waktu pada suatu masa, kakek Mingyu pernah bertemu langsung dengan Joshua sehingga memberikan peringatan itu padanya, sebab Mingyu yakin bahwa tidak ada mahkluk halus yang lebih berbahaya (dan lebih cantik) dari Joshua Hong, putra tunggal Dokter Hong yang tewas ditabrak mobil mabuk ketika ia berjalan pulang dari rapat OSIS yang kemalaman berpuluh tahun lalu. Joshua Hong yang bahkan setia menjabat sebagai ketua OSIS di kehidupan setelah matinya.
“P-Pokoknya, bilang ke temen lo itu buat jauhin Bang Cheol,” setelah berdeham meredakan salah tingkahnya, Mingyu menatap Joshua dengan sungguh-sungguh. “Gue serius, Joshua. Kondisi Bang Cheol udah gawat. Kalo dia terus-terusan nemuin tuh anak di perpus tiap malem, Bang Cheol bisa mati.”
Joshua berkedip. “Mati juga nggak apa kan?” ditelengkannya kepala. “Wonyu juga pasti lebih pingin pacarnya mati, biar bisa bareng terus.”
Mingyu menggeleng cepat, “Bang Cheol punya masa depan! Dia bukan orang mati kayak kalian! Bang Cheol punya—punya orangtua, punya abang. Mereka semua sayang banget sama dia. Gue sayang banget sama dia. Gue nggak mau dia dibawa kalian pergi! Belom saatnya dia mati!”
“Oh? Terus, kalo aku dan Wonyu, berarti udah saatnya kita mati, gitu?”
Seperti ada sesuatu jatuh ke perut Mingyu.
“K-kalian kan,” ia berdeham lagi. Kenapa tenggorokannya jadi kerasa ada yang mengganjal begini sih? Ditelannya ludah, lagi, sebelum meneruskan. “Emang udah mati.”
Joshua melirik, memandang Mingyu tepat di mata. Ada sesuatu terbersit di sana—kesedihan? Kekesalan? —yang lalai Mingyu tangkap. Ia masih terlalu muda untuk memahami apa dampak di balik ucapannya barusan. Mungkin, bila ini Mingyu di usia 30, ia akan mampu mencerna dan langsung meminta maaf, tapi Mingyu usia 17 tidak paham apa-apa. Bocah tanpa pemikiran panjang.
“Betul. Aku sama Wonyu udah mati, Gyu-yah,” Joshua kemudian tersenyum dan memejamkan mata, membiarkan Mingyu bertanya-tanya reaksi macam apa itu. “Nggak pantes ngambil hak hidup orang, biarpun orang yang hidup itu yang milih buat bareng kita yang udah mati ini.”
“…Hah?”
Meringis lagi, ia pun menjelaskan. “Aku sama Wonyu udah mati. Jiwaku, jiwa dia, dan semua anak-anak di sekolah malam ini keiket sama sekolah ini sendiri. Bangunannya, perabotannya. Aku pada ruang OSIS, tempat sebagian besar waktuku kebuang. Wonyu pada perpustakaan, tempat favoritnya kala senggang. Berbagai murid memilih tempatnya sendiri. Ada yang di vending machine. Ada yang di toilet lantai tiga bilik paling ujung. Di kerangka laboratorium biologi. Patung batu di halaman sekolah. Ada juga beberapa memilih kantin atau toko roti.
Artinya, kami di sini nggak akan bisa bergerak dari sekolah ini, Gyu-yah. Kamu paham maksudku kan?”
Mingyu tidak bodoh. Tentu ia menangkap maksud Joshua beberapa saat setelah anak lelaki itu menjelaskan. Karena anak lelaki di perpustakaan itu tidak bisa pergi dari sekolah, maka salah Seungcheol lah karena sengaja menemuinya. Joshua menolak eksistensi yang mati disalahkan karena ulah yang masih hidup.
…Seungcheol sialan.
Meski begitu, Mingyu juga keras kepala. Ia enggan mengaku salah dan mundur dari tuduhannya. Ada Seungcheol yang nyawanya menjadi taruhan secara harfiah (dan Mingyu dengan ego-nya) di sini. “Yah, emang salah dia juga sih, masih aja dateng nemuin temen lo… tapi itu pasti karena temen lo yang ngerayu dia, kan?! Pake kekuatan apalah yang kalian setan pasti punya! Gegara temen lo, dia jadi gitu!”
“Hmm,” tidak gentar, Joshua justru membalas. “Terus kamu sendiri, gimana? Apa kamu ngerasa aku godain, Gyu-yah? Ngerasa aku gunain ‘kekuatan’—” Joshua membentuk dua tanda petik di sisi kepalanya sambil memutar bola mata. “—aku ke kamu?”
“Hah? Lo ngomong apaan sih?” kenyitan alis Mingyu semakin tajam.
“Soalnya, kamu sama Seungcheol sama aja kan?” Joshua kemudian tersenyum penuh kemenangan. “Sama-sama balik ke sini, nemuin kami yang udah mati ini hampir tiap malem, lagi dan lagi?”
Bola mata Mingyu melebar.
“At least Seungcheol punya alesan kenapa dia nemuin Wonyu tiap malem,” ia terkekeh. Pacaran di perpustakaan malam-malam. Romantis sekali. Benar-benar gaya Wonwoo. Lalu, bijih mata cokelat gelap pemuda tinggal nama itu berkilat kala menantang balik tatapan Mingyu.
“Kalo kamu? Apa alesan kamu,
Kim Mingyu?”
“……Kkh—”
BRAKK!!
Serusuh anak lelaki itu datang, ia pun angkat kaki begitu saja setelah menendang paksa pintu ruang OSIS hingga pintu geser itu bergelayut mengenaskan, seketika membutuhkan perbaikan. Joshua menghela napas, menyayangkan emosi Mingyu yang sungguh tak stabil. Apa Mingyu lupa bahwa dirinya sendiri adalah wakil ketua OSIS di sekolah ini (tentunya di sisi satunya yang jauh lebih terang, bukan sisi Joshua yang penuh kegelapan) dan besok akan menempati ruang ini untuk bekerja? Ia pasti akan dipanggil kepala sekolah sebagai bagian interogasi perusakan pintu. Konyol sekali anak itu.
Konyol. Betapa Joshua selalu menanti kedatangan Mingyu tiap malam, berharap malam itu akan menjadi malam dimana Mingyu akhirnya akan mencium bibirnya.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Joshua, Mingyu berlari dan berlari, menuruni anak-anak tangga menuju perpustakaan—atau gerbang sekolah yang telah lama terkunci, entahlah, ke manapun tak masalah—menciptakan jarak dengan Joshua sejauh mungkin. Karena, entah bagaimana, Mingyu yakin kalau Joshua mampu mendengar dentuman jantung tak beraturan di dalam dadanya.
Konyol. Padahal Mingyu selalu mengorbankan jam tidurnya tiap malam hanya untuk menemui Joshua, berharap malam itu akan menjadi malam dimana ia akhirnya bisa merasakan manisnya bibir Joshua.
Ah, ah. Dua manusia tolol, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup.
Sigh.