Gyushua AU: Y/N POV, Female OC, Y/N & Joshua are friends, Canon compliant, Character study, 20251230 Happy birthday my son!
“Y/N!”
“Josh!”
Dengan kedua mata berbinar-binar, Joshua Hong melingkarkan lengannya kuat di sekelilingmu, menarikmu masuk ke dalam pelukannya yang erat. Dua belas tahun. Sudah dua belas tahun berlalu semenjak kalian berpelukan erat begini di area pengantaran internasional di bandara, berjanji atas banyak hal dengan senyuman yang jelas-jelas menahan kesedihan tersungging di wajah kalian berdua. Joshua kala itu begitu kurus dan kecil. Tubuhnya tidak jauh berbeda dengan tubuhmu sendiri. Bukti-bukti pubertas tercetak jelas di seluruh aspek fisiknya, mulai dari jerawat, kulit kering hingga gigi yang tumbuh agak berantakan.
Sekarang? Joshua sekarang telah menjadi lelaki matang yang indah, luar dan dalam. Kamu tak bisa menutupi ketakjubanmu. Setelah kamu diangkatnya dan diputar-putar (well, jelas berat badanmu bertambah di sini dan di sana setelah dua belas tahun tapi sepertinya dia tidak merasa kesulitan mengangkatmu sama sekali) sambil tertawa lepas, memenuhi ruang pribadi artis di belakang panggung persis selepas konser dengan keceriaan kalian, kamu pun menjulurkan tangan untuk menangkup kedua pipinya. Dia hanya tersenyum makin manis, senang karena perlakuanmu padanya tidak berubah meski kini hampir seluruh dunia telah mengenal nama serta wajahnya.
“Gue masih nggak percaya lo temen gue…,” ucapmu, membuatnya terkekeh. “Serius. Bayangin berapa banyak orang ngeraguin gue pas gue bilang gue temen lo. Dikira gue mau caper aja biar lo notis gue gitu.” Giliran kamu yang terkekeh pas kernyitan di keningnya muncul.
“Seriusan? Ada yang bilang gitu?”
Kamu cuma mengangguk. Melihat rasa bersalah di parasnya membuat kamu buru-buru menyamankan suasana. “Tenang aja sih. Nggak gue tanggepin omongan orang-orang kayak gitu. Gue tau mereka iri doang sama gue,” akumu ringan. “Lagian, yang nyimpen nomer Katalk lo di hape itu gue, bukan mereka.”
“True,” dia ketawa lagi. Dilipatnya lengan di dada. Kaus kutang warna hitam yang dia kenakan memamerkan otot-otot lengannya. Tangannya pun penuh dengan urat menonjol. Tangan lelaki. Lengan lelaki. Dirimu dua belas tahun yang lalu tidak akan pernah bermimpi membayangkan teman yang dulu gemar bergosip denganmu pas rehat kelas bakal jadi seperti ini.
“Lo jadi cantik banget, Josh…”
“Kok cantik? Ganteng dong harusnya,” protesnya.
“Ganteng mah udah pasti, tapi cantik juga. Gimana sih bilangnya,” kamu menggaruk dagu, berusaha mencari kata yang pas. Pasalnya, kamu juga nggak berbohong. Joshua di matamu jadi makin cantik, makin ganteng, makin pantas dibilang idola papan atas skala global. Bukan lagi Clean, Nene Chicken, atau Lafuma, tapi sudah merk sekelas Givenchy, Bulgari, Yves Saint Laurent dan BOSS. Rasanya aneh, mengetahui temanmu (dan teman-temannya) menjadi wajah dari merk-merk mendunia itu. “Ah. Jadi makin mirip Tante.” Kamu nyengir, tahu bahwa dia tidak akan bisa membantah pernyataan itu. “Tante apa kabar? Sehat?”
Kemudian obrolan kalian mengarah ke keluarga masing-masing. Joshua balas bertanya mengenai kabar orangtuamu juga adik kembarmu yang menyebalkan itu. Meski kamu menggerutu, dia bisa melihat kalau kamu sangat menyayangi keluargamu. Dulu, Joshua kerap mengaku kalau dia iri kamu memiliki saudara karena dia anak tunggal yang dibesarkan oleh ibunya seorang. Pulang ke rumah pun lebih sering kesepian. Orangtuamu langsung mengangkatnya menjadi anak secara tidak resmi, memberi atap, makanan dan cinta kasih setiap dia membutuhkannya. Dan ibu Joshua, sebagai balasan terima kasih karena telah menjaga anaknya selama bekerja, cukup sering meminta Joshua mengantarkan berbagai makanan lezat untuk keluargamu.
Tanpa kalian sadari, kalian sudah berpindah ke sofa. Hiruk pikuk staff menutup dan membereskan properti panggung berkeliaran di sekitar kalian namun kalian tidak terlalu menghiraukannya, terlalu tenggelam dalam obrolan untuk mengejar ketertinggalan dua belas tahun lamanya. Berbagi kabar teman-teman lama yang dahulu mengisi hari-hari kalian hingga teman-teman baru yang tidak sabar untuk diperkenalkan pada satu sama lain. “Really? Anaknya udah empat? Wow,” kekeh Joshua. “Gue inget banget dia bilang nggak mau nikah sama sekali. Look at him now.”
“Banyak tau temen-temen kita yang anaknya udah dua, tiga.”
“Lo gimana?”
Mendengar pertanyaan itu, kamu mengerjap beberapa kali sebelum menggeleng. “Bad luck, I guess?” kamu nyengir. “Pacaran dua tahun. Putus. Terus naksir orang tiga tahun, kandas sebelom berkembang. Abis itu gue piara kucing instead of men. Now single and happy.”
Senyuman Joshua antara maklum dan sedih. “Are you really?” tekannya lagi. Dia mengambil tanganmu untuk ditangkupnya dengan tangannya sendiri. Tangan yang sama besar dan hangat seperti yang kamu ingat. Bahkan, bila Joshua telah begitu berubah, kehangatan tangannya tetap lah sama. Kehangatan hatinya pun tidak berbeda. Kamu dibuat tersenyum olehnya.
“I’m okay, Josh,” tegasmu, sembari menangkup tangannya di atas tanganmu. Lalu, untuk meringankan suasana, kamu berkelakar. “Mungkin bakal lebih oke kalo gue dibolehin ngajak lo jalan tiap lo ada jadwal ke sini.”
“Sure,” malah dibalasnya dengan serius. Matanya terus menatap matamu, memastikan bahwa kamu tidak menyembunyikan apapun darinya. Memastikan, bahwa kamu benar-benar bahagia seperti doanya padamu. “I’m just one Katalk away. But call me. I’m never good with text as always.”
Kalian pun tertawa. Namun, tawa tersebut tidaklah lama karena seseorang kemudian menghampiri sofa tempat kalian duduk. Kamu refleks menoleh, mencari tahu siapakah gerangan. Yang datang ternyata salah satu anggota grup Joshua. Jujur, kamu bukan penggemar berat Kpop. Tentu kamu tahu mengenai Joshua dan cukup sering mengikuti kabar grup tempat temanmu itu bernaung setiap mereka mengadakan konser di negaramu, namun di luar itu, kamu tidak begitu tahu-menahu mengenai dunia Kpop itu sendiri. Tapi, rasanya mustahil kalau kamu tidak mengenal siapa yang datang, sebab wajahnya terpampang hampir dimana-mana selama setahun belakangan. Billboard, poster, doom scrolling Tiktok, iklan televisi—you name it. Dan yang paling kamu ingat adalah dirinya di iklan jins Calvin Klein.
Kim Mingyu.
“Hyung,” panggil lelaki berkulit cokelat dan bertubuh tinggi menjulang itu. “Udah kosong tuh, bisa mandi kita sekarang.”
“Oh, Mingyu-yah,” Joshua langsung bangkit untuk mendekati lelaki itu. “Duluan aja. Gue masih ngobrol sama temen gue.”
Si lelaki manyun sebelum arah pandangnya berpindah ke kamu. Kamu kaget pas dia malah mengulurkan tangan, dengan santai mengajak berkenalan. Grup ini isinya orang-orang extrovert apa gimana? “Hi. Nice to meet you. I’m Mingyu,” dengan aksen lidah Asia Timurnya yang kental, lelaki itu berusaha menggunakan bahasa yang dimengerti kamu, membuatmu mau tak mau tertawa sambil menjabat tangan itu.
“Gue bisa bahasa Korea kok,” ucapmu. Kali ini dia yang kaget. “Josh yang ngajarin dulu. Hai. Gue Y/N. Temen lama Josh. Nice to meet you too, Kim Mingyu.” Cengiranmu melebar. “Gue liat iklan CK lo. Seksi banget.” Sengaja kamu pura-pura mengipasi wajah.
Begitu kalimat barusan terlontar, pipi Mingyu merona. Di luar dugaanmu, dia orang yang cukup mudah tersipu. Manis banget. Kalau Joshua manis secara wajah, maka lelaki bernama Mingyu itu manis secara sifat. “Ah, eh, makasih,” digarukinya bagian belakang leher, salah tingkah. “Agak malu juga sih gue sebenernya. Tapi, yah, namanya juga kerjaan…”
“Hmm, hmm,” kamu mengangguk-angguk. Sangat paham. Lagipula, siapa yang tidak akan merasa malu kalau harus separuh telanjang di depan mata dunia demi pekerjaan? “Tapi keren kok. You seriously look hot there.”
“Ahem,” sebelum Mingyu tersipu makin dalam, Joshua berdeham memotong pembicaraan kalian. “Gue nggak mau ganggu, tapi kalo lo nggak mandi sekarang nanti telat baliknya, Gyu. Lo balik ke hotel sendiri kan?”
Mingyu mengangguk. “Oke, kalo gitu gue duluan aja…,” sengaja dia menatap Joshua sejenak sebelum melanjutkan. “…Nggak apa-apa nih?”
Joshua membalas dengan tertawa dan menepuk-nepuk pipi lelaki itu. “Nggak apa-apa. Nanti gue nyusul,” jawabnya. “Udah sana. Jangan kemaleman. Besok kita masih ada konser lagi.”
Dengan wajah kuyu dan langkah gontai, Mingyu menurut, berjalan bagai mumi hidup menjauhi sofa kalian, membuatmu tertegun sejenak. Aneh, pikirmu. Joshua mengantar kepergian lelaki itu dengan senyum terus terpasang sampai, pada akhirnya, punggungnya hilang ditelan para staff dan perhatiannya kembali padamu. Persis saat itulah, kamu melihat perbedaan pada raut wajahnya.
“Josh,” kamu memulai. “Sori tapi gue penasaran, Mingyu itu…beneran cuma temen lo?”
Ketika dia nampak terhenyak, kamu yakin kamu sudah menanyakan hal yang tepat.
“I see,” senyummu puas.
“How—” lalu, perlahan Joshua menutup keningnya dengan telapak tangan sambil menghela napas. Dia kemudian merebahkan punggungnya ke sofa. “Right. I forgot. Nggak ada yang bisa gue sembunyiin dari lo. Not even this…”
“Buat apa juga lo sembunyiin sih? Gue pasti tau lah,” tegasmu. Sebagai salah satu orang pertama di dunia yang tahu orientasi seksual Joshua, kamu juga tahu segala kisah kasih yang pernah mampir dalam hidupnya, setidaknya sampai dia bertolak ke Korea untuk memulai perjalanan menjadi idola Kpop di usia delapan belas. Segala cerita berlinang air mata maupun rona merah di pipi yang tentu akan berabe jika bocor ke pihak media. Skandal abad ini: Joshua Hong dari grup SEVENTEEN menyukai sesama jenis.
Apalagi, batinmu. Kalau mereka tahu pacarnya yang sekarang berasal dari grup yang sama. Two birds with one stone or whatever.
“So? Udah berapa lama nih? Dia gimana sama lo?” kamu ikut rebahan seperti dirinya. “Dia oke? Does he treat you like he should?”
Joshua mendengus. “Yes, Mom,” kelakarnya. Kamu memang tidak berubah, masih menjaganya dengan caramu sendiri, bahkan ketika dia adalah lelaki dewasa yang jelas sangat mampu mengurusi hidupnya. “Tahun ini masuk lima. Dia super oke. Apa ya…” Joshua celingak-celinguk sebentar sebelum menutup telingamu untuk berbisik. “I think he’s the one.”
Kamu terkesiap. “Oh my God, really?” rasanya hatimu mau meledak. “Like, really?? Oh my God, oh my God, Josh, I’m so happy for you!”
Melihatmu yang super bahagia, dia jadi tertawa. “Thanks. Gue nggak mau nge-jinx soalnya cincin belom ada walo udah lima tahun, tapi kalo detik ini dia berlutut pun, gue bakal iyain langsung nggak pake mikir.”
“Lo wajib undang gue. Bridesmaid. Nggak mau tau. Awas kalo lo nggak kabarin ato ngundang gue. Kita putus pertemanan saat itu juga.”
Akan ancamanmu, Joshua ketawa makin kencang. “Iya, iya. Nanti gue terbangin lo dari sini ke Seoul. Akomodasi, tiket, dress. You name it. Semua beres. Lo cuma perlu dateng and be the best best friend I have ever had,” pandangannya padamu melembut. “Makasih banget. Really. Buat semua yang lo dan keluarga lo udah lakuin buat gue dan nyokap gue. I owe you so much.” Diraihnya tanganmu agar bisa digenggam hangat. “So damn much. Kalo lo perlu gue, soal apapun, kapanpun, dimanapun, Y/N, lo dateng ke gue. Lo harus, harus harus harus, sama bahagianya sama gue, nggak boleh kurang.”
Kamu mau tak mau tersenyum mendengarnya. Sambil menggenggam balik, kamu bergumam, “Oke. Janji. Gue bakal buat lo nyesel udah ngasih gue kontak lo soalnya gue bakal banjirin sama obrolan asbun kita kayak dulu lagi,” cengirmu iseng.
Joshua Hong—that Joshua Hong dari grup terkenal SEVENTEEN—yang tempelan stiker di koper dan cap imigrasi di paspornya bagai timbunan memori, yang wajahnya menghiasi segala sudut media, yang fancam dance-nya selalu muncul di FYP kamu dan yang namanya terpampang di nomor 2 Billboard 2025, hanya tersenyum lebar memamerkan geligi sebagai tanggapan atas janjimu barusan. Wajahnya berseri-seri sebagai tanda kebahagiaan yang jelas terpancar dari tiap pori-pori kulitnya. Kebahagiaan akan jalan hidupnya, kisah kasihnya yang indah, keluarga dan pertemanannya yang harmonis, serta masa depan yang nampak akan jauh lebih terang lagi.
Ah…
Diam-diam kamu menghela napas lega. Joshua memang paling cantik saat bahagia.
